"Seandainya di depan mataku ini ada tembok berwarna putih, lalu Muhammad mengatakan bahwa tembok itu berwarna hitam, maka aku akan bohongkan mataku, dan akan kukatakan bahwa tembok itu berwarna hitam!". (perkataan Abu Bakar radhiallahu anhu, dinukil dari ceramah sejarah Nabi, oleh Khalid Basalamah)

29 Januari 2009

Rokok diharamkan?!

Dalam sebuah blog seorang pecandu rokok berpendapat :
Dulu ajinomoto haram dan banyak lagi yang MUI bilang haram tetapi setelah tidak lama kemudian, tidak ada fatwa lagi dari MUI yang menyatakan Halal. tiba tiba sekarang jadi Halal lagi… Wah, itu di MUI ada sogok-sogokan juga kayak di DPR ya..
Hai, orang-orang sok tahu agama….sesuatu yang dibilang haram, akan haram selamanya sampai kiamat. gak ada yang bilang kalau haram menjadi halal…
tunggu sogokan dari cukong-cukong rokok aja biar gak banyak mulut tuh MUI dan Rokok jadi Halal lagi… tau dech..mungkin dah mau kiamat dunia ini..
kenapa Ahmadiyah gak ada larangan haram yang real…hihihi.
KACAU NICH ULAMA INDONESIA MASIH DOYAN BERAS DAN DUIT DARIPADA SURGA..HEHEHEH

Sedangkan seorang pendukung fatwa MUI tentang Haramnya rokok berpendapat :
Dalam alquran ataupun hadits tidak ada satupun ayat yang menyatakan bahwa daging harimau adalah haram. Apakah karena demikian daging harimau dapat kita halalkan ? Jawabnya tentu tidak. Kita semua sepakat bahwa daging harimau adalah haram karena tergolong binatang buas bertaring. Rasulullah bersabda : “Tiap-tiap binatang buas yang mempunyai taring adalah haram dimakan.” (HR. Muslim dan Turmudzi)
Sekarang analogi di atas kita gunakan pada rokok. Tidak ada satupun ayat Alquran atau hadits yang menyebutkan tentang rokok. Lalu apakah itu menyebabkan ROKOK adalah tidak haram ?.
Tidak ada satu pun orang yang bisa menyangkal semua fakta BAHWA ROKOK ADALAH MEMBAHAYAKAN, karena merupakan hasil penelitian ilmiah. Bahkan perusahaan rokok pun mengiyakan hal tersebut, dan menuliskan pada kemasannya:
“MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN ”
Kalau produsen rokok sendiri sudah menyatakan bahwa produknya berbahaya dan mendatangkan penyakit, bagaimana mungkin KITA masih mau mengingkarinya?
Apakah kita masih mempertahankan “pendapat membabi buta” bahwa rokok bukanlah suatu yang membahayakan ?
“……Dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik, dan diharamkan atas mereka apa-apa yang buruk..” (Alquran surat Al-A’raaf: 157).
Demikian pula para ulama ketika menyadari keberadan 4000-an racun dalam batang rokok dan mengetahui akitab-akibat yang diderita para perokok, mereka pun sepakat untuk mengharamkannya. Sayangnya, banyak umat Islam Indonesia masih saja menganggap selama tidak ada ayat yang tegas atau hadits yang eksplisit yang mengharamkan rokok, maka mereka masih menganggap rokok itu tidak haram.

Pro kontra pasti ada... kepala boleh panas, tapi hati tetap dingin. kita ini sama-sama WNI, sama-sama generasi bangsa ini, nggak perlu-lah saling "serang" sampe segitu tajamnya hanya karena sebuah masalah yg lebih tepatnya harus dipikirkan oleh pemimpin negri ini.

Ada satu hal yg hampir takkan pernah goyah dlm keyakinan seorang perokok (apalagi pecandunya). "IDEOLOGI" seorang perokok mengalahkan APAPUN (bahkan paru-parunya sendiri). Hanya Allah SWT Maha Pembolak-balik hati manusia...

Memang tidak pernah ditemukan peringatan : "Rokok itu haram" baik di Al-Qur'an maupun Al Hadits. Itu saja yang belum jelas disebutkan, lalu bagaimana coba dengan yang sudah jelas disebutkan, misalnya minuman keras... sudah jelas diharamkan dalam Islam, tapi di Indonesia ini masih banyak diskotik-diskotik yang menjual bebas minuman keras. Ironisnya masih banyak orang (bahkan mengaku muslim) yang nggak peduli dan tetap asyik menikmati minuman keras tersebut.

Islam memberikan aturan hidup untuk manusia, agar manusia selamat sampai "tujuan" dalam menjalani kehidupannya. tapi terserah kepada manusia itu sendiri, mau atau tidak mengikuti aturan. Bukankah manusia itu makhluk istimewa yang diberikan kebebasan untuk memilih?!

Memang bangsa ini bukanlah negara Islam, Indonesia berdasarkan Pancasila, dan memang sudah taqdir kita menjadi warga negara ini, tapi cobalah kita tanya dalam diri kita sendiri...
Maaf terutama bagi para perokok, mungkin coba tanyakan dalam diri, dalam hati yg paling terdalam anda...

Pertama:
"Waktu pertama kali anda mengenal rokok, apa alasan PERTAMA kali anda menyalakan rokok, lalu menghisapnya? UNTUK PERTAMA KALINYA, MENGAPA ANDA MEROKOK?" Apakah orangtua anda yg mengajari, atau terpengaruh dengan teman sepermainan?! Tolong beri satu alasan itu, lalu coba anda bandingkan dg pendapat anda saat ini ketika anda sudah FULL POWER menjadi pecandu rokok... apa anda merasakan perbedaannya?

Kedua:
"Bila anda duduk berdekatan dg seorang ibu hamil, apa anda akan tetap merokok di sampingnya?" Sungguh manusia TAK PUNYA HATI bila seorang perokok tetap merokok di samping ibu hamil dengan cuek dan tenang tanpa rasa bersalah... Namun bila anda kemudian pergi menjauh ke tempat sepi, kemudian anda merokok di tempat sepi itu... bersyukurlah karena anda masih punya HATI, anda masih peduli dg orang lain, anda masih punya SEDIKIT anggapan bahwa asap rokok akan MERUGIKAN kesehatan ibu hamil itu, dan karena itu anda tidak merokok di sampingnya. Saat hati anda mengakui bahwa merokok itu merugikan orang lain dan juga jelas merugikan diri sendiri, mengapa anda masih tetap merokok? Anda telah menyerang dan menghujat diri anda sendiri dengan ego dan ideologi baru tentang merokok...

Demikian argumen saya... kewajiban saya sudah saya tunaikan, saya coba memberi pengertian kepada saudara-saudaraku para perokok muslim... Berubah atau tidaknya keyakinan anda tentang rokok, itu bukan "urusan" saya lagi, sekali lagi : hanya ALLAH Subhanahu wata'ala Maha Pembolak-balik hati manusia, dan sudah tentu saya pasti turut senang dan berbahagia bila hidayah Allah bisa masuk dan menghujam di hati anda...

Pernah dalam sebuah kisah pada jaman Nabi Muhammad, ada seorang badui yg dengan lancangnya kencing di masjid umat muslim, Nabi melihatnya dengan tenang. Ketika badui itu selesai kencing, Nabi mengambil air untuk menyiram bekas yg dikencingi badui itu, kemudian Nabi memperingatkannya dengan lemah lembut.

Islam adalah rahmatan lil alamin... rahmat bagi seluruh alam semesta, Nabi Muhammad tidak pernah menekankan cara kekerasan dalam menghadapi suatu masalah. Demikian juga masalah fatwa tentang rokok ini, tidak perlu terjadi dukungan ataupun penentangnya saling berbenturan dengan hebatnya, mari diskusikan dengan cara yg sopan, cantik dan elegan, sebagaimana cara orang tua kita mendidik dan mengajarkan sopan santun bertutur kata dan bertingkah laku. Kata-kata yg keluar dari mulut kita mencerminkan hati dan siapa sebenarnya diri kita... Siapakah orangnya yang bangga bila dianggap sebagai seorang egois yang fanatik, brutal, liar dan tidak tahu aturan?! Tentu kita tidak menyukai bila dikatakan demikian bukan...

Para pecandu rokok membela rokok dengan hebat dan tangguhnya, sedang kadang mereka sendiri bahkan tidak mampu berpendapat secara eksplisit dan jelas tentang manfaat apa yg bisa mereka ambil dari merokok.

Pihak pendukung fatwa MUI pun juga tidak memiliki hak ataupun wewenang untuk mengatur orang lain secara penuh, meskipun yakin bahwa yang diperjuangkan dianggap seratus persen benar.

Lepas dari seluruh kontroversi masalah haram atau tidaknya rokok, mari tetap kita jaga rasa persatuan dan tenggang rasa di antara sesama, "Nek dijiwit kuwi loro, yo ojo njiwit", jangan balas api dengan api. Semoga kita semakin dewasa dan bijak menghadapi setiap permasalahan yang melanda bangsa ini. Saling mengingatkan tetap senantiasa kita pertahankan, karena manusia selalu penuh dengan kelalaian dan kekurangan, sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah Subhanahu wata'ala.

Tidak ada komentar: